ShoutMix chat widget

Tuesday, January 5, 2010

Tugas Metode Riset 4

Faktor — Faktor yang berpengaruh terhadap jumlah uang beredar
di Indonesia sebelum dan sesudah krisis

   ( sebuah analisis ekonometrika )

Lily Prayitno
Heny Sandjaya

Masalah

Permasalahan pads penelitian ini adalah factor – factor apa saja yang mempengaruhi jumlah uang yang beredar sebelum dan sesudah krisis pads tahun (1990­1999)

Tujuan Penelitian

Pada umumnya sebagai Negara berkembang, menaikkan tingkat pertumbuhan ekonomi sangat penting, oleh sebab itu pemerintah diharuskan mengambil peran sebagai motor penggerak pembangunan ekonomi nasional. Apalagi saat ini struktur perekonomian Negara berkembang sedang porak poranda akibat krisis moneter

Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan analisa regresi berganda dengan menerapkan model log. Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari satu variabel tidak bebas dan tiga variabel bebas. Variabel tidak bebas adalah jumlah uang beredar (M2) yaitu uang dalam arti Was yang terdiri dari M I ditambah uang kuasi. Variabel bebas terdiri dari pengeluaran pernerintah (G) yaitu total pengeluaran balk pengeluaran rutin maupun pengeluaran pembangunan; cadangan devisa. (CDR) yaitu mats uang asing yang dimiliki; Berta angka pengganda. uang (nim).

Angka pengganda uang dihitung dengan menggunakan rumus (1)

berdasarkan Nilawati (2000:162), di bawah ini :

   M              C+D+QM

Mm  =                =                                 

    H                         C+R

Untuk dapat mengetahui seberapa jauh pengaruh pengeluaran pemerintah, cadangan devisa, dan angka pengganda uang (money multiplier) terhadap jumlah uang yang beredar si Indonesia, digunakan model analisa regresi log. Model yang digunakan dalam penelitian ini

Lr M2 =á0+á1Ln CDR + Ln 6 + An mm


Sebelurn melakukan perhitungan regresi, dilakukan pengujian autokorelasi Durbin Watson. Pengujian ini dilakukan dengan melihat apakah kesalahan pengganggu dari periode tertentu (it) berkorelasi dengan kesalahan pengganggu dari periode sebelumnya (it-,) Pengujian Durbin-Watson serta analisa regresi dengan menggunakan rumus regresi log.


Hasil Penelitian

Hasilnya adalah pads mass sebelum krisis (1990-1997) dapat disimpulkan, pengeluaran pemerintah signifikan. Dan berpengruh positif berbanding terbalik dengan angka pengganda uang yang signifikan akan tetapi berpengaruh negatif. Terhadap jumlah uang yang bereclar sedangkan cadangan devisa tidak signifikan terhadap jumlah uang yang bereclar.

Berbecla dengan hasil mass sebelum krisis, mass setelah krisis (1997-1999) menghasilkan bahwa variable pengeluaran pemerintah tetap signifikan akan tetapi untuk cadangan devisa dan angka pengganda uang tidak signifikan terhadap jumlah uang beredar.

Sedangkan hasil dari seluruh waktu (1990-1999) di katakana bahwa pengeluaran pemerintah tetap berpengaruh positif clan cadangan devisa jugs berpengaruh secara signifikan dan positif tetapi angka pengganda uang masih tidak signifikan dalam analyse kalif ini.

 

  •  Untuk jangka panjang variable pengeluaran pemerintahh signifikan terhadap jumlah uang yang bereclar
  •  Untuk jangka panjang variable cadangan devisa signifikan terhadap jumlah uang yang beredar
  •  Uank jangan panjang variable angka pengganda uang tidal signifikan terhadap jumlah uang yang beredar

Kesimpulan dan saran

Sebagai saran, pemerintah dapat melanjutkan atau menerapkan kebijakan pengeluaran pemerintah balk pads waktu sebelum clan sesudahnya krisis untuk periode berikutnya sebab kebijakan tersebut terbukti efektif dalam mengendalikan jumlah uang yang beredar(M2)

Pemerintah hendaknya meningkatkan cadangan devisa sebab dari hasil penelitian terlihat bahwa cadangan devisa khususnya untuk periode sesudahnya krisis cadangan devisa Indonesia terns menerus clan cadangan tersebut merupakan cadangan devisa yang semu dalam arti cadangan devisa tidal diperoleh dari surplus ekspor melainkan dari utang lunar negeri. Sehingga karena sebagian cadangan devisa tidak dapat digunakan untuk mempengaruhi jumlah uang beredar dalam rangka pengendalian jumlah uang bereclar (M2) agar tidal terjadi money supply yang lebih besar dari pads penawaran barang yang bisa berakibat inflasi.

Pemerintah hendaknya tidak perlu mengandalkan moray multiplier untuk mengendalikan pereclaran uang karena dari hasil penelitian terbukti bahwa variable angka pengganda uang dalam jangka panjang tidal signifikan terhadap jumlah uang bereclar di Indonesia dalam arti luas(M2) karena money multiplier setiap tahun berubah – ubah sesuai dengan kondisi Indonesia yang tidal stabil yang berarti angka pengganda uang tidal berpengaruh terhadap jumlah uang yang bereclar (M2) sehingga tidak perlu digunakan untuk mengendalikan uang yang beredar dalam arti luas Indonesia (M2)

 

Selengkapnya...

Tugas Metode Riset 3

KEPEMIMPINAN DAN PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN PADA PERUSAHAAN PT. ULTRAJAYA MILK INDUSTRY AND TRADING COMPANY, TBK

Abstrak

    Dalam suatu organisasi, kerjasama yang kuat antara setiap anggota merupakan suatu hal penting yang harus dimiliki agar terwujudnya tujuan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu kerjasama antara pemimpin dan bawahan perlu mendapat perhatian, agar pelaksanaan aktivitas perusahaan berjalan dengan tujuan yang telah ditetapkan. 

    Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara gaya kepemimpinan dan produktivitas kerja karyawan pada perusahaan PT. Ultrajaya Milk Industry and Trading Company, Tbk. Dalam melaksanakan penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif analisis, yaitu suatu bentuk penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan data-data yang mempunyai hubungan  erat dengan permasalahan yang akan diteliti dan dibandingkannya dengan pengetahuan teori untuk merumuskan persoalan serta kemungkinan untuk mencari pemecahannya. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner dan wawancara. Dan penelitian ini mengambil sample sebanyak tiga puluh orang karyawan PT. Ultrajaya Milk Industry and Trading Company, Tbk bagian produksi.

    Pengukuran yang digunakan untuk membahas gaya kepemimpinan tersebut adalah yang mengacu pada teori kepemimpinan Blake dan Mouton. Dimana pengukuran gaya kepemimpinan tersebut berdasarkan pada:

1.              Perhatian pimpinan terhadap manusia.

2.              Perhatian pimpinan terhadap tugas.

    Dilihat dari total nilai yang diperoleh menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan eksekutif. Sedangkan korelasi dengan menggunakan rank Spearman diperoleh sebesar 0,73. Hal ini menunjukkan bahwa antara variabel gaya kepemimpinan dan variabel produktivitas kerja terdapat pengaruh positif yang kuat. Dan koefisien determinasi yang diperoleh sebesar 53,29 %. Ini berarti bahwa 53,29 % dari produktivitas kerja dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan, sedangkan sisanya 46,71 % dipengaruhi oleh faktor lainnya. Yang berarti hipotesis dapat diterima yaitu:

Apabila gaya kepemimpinan diterapkan sesuai dengan persepsi karyawan, maka produktivitas kerja karyawan dapat meningkat.

    Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh perusahaan sesuai dengan persepsi kerja dan dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawannya.

    Adapun saran yang diberikan penulis adalah agar perusahaan PT. Ultrajaya Milk Industry and Trading Company, Tbk tetap mempertahankan gaya kepemimpinan yang diterapkan yaitu gaya kepemimpinan eksekutif, karena gaya kepemimpinan tersebut sudah sesuai dengan apa yang diharapkan oleh para karyawan, sehingga hal ini hubungan balk antara pimpinan dan karyawan dapat terns terjalin dengan baik yang pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas kerja karyawan.

sumber : Repository gunadarma

 

Selengkapnya...

Tugas Metode Riset 2

PREDIKSI TINGKAT KESEHATAN PERUSAHAAN ASURANSI JIWA TERMASUK KEMUNGKINAN KEBANGKRUTANNYA DENGAN

RASIO-RASIO KEUANGAN

Peni Sawitri

Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma

 

 

Masalah

Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah laporan keuangan dapat digunakan untuk memprediksi tingkat kesehatan perusahaan asuransi jiwa termasuk kemungkinan kebangkrutannya dengan rasio-rasio keuangan.

 

Tujuan Penelitian

Untuk menemukan bukti empiris untuk menguji variable Penelitian ini bertujuan untuk meneliti apakah laporan keuangan dapat digunakan untuk memprediksi tingkat kesehatan perusahaan asuransi jiwa termasuk kemungkinan kebangkrutannya dengan rasio-rasio keuangan.

 

Metodologi Penelitian

Penelitian ini mengambil data sekunder berupa hasil peringkat Asuransi Jiwa yang telah dilakukan Biro Riset Info Bank per Desember 2000 terhadap 60 perusahaan dimana 7 diantaranya tidak diikutsertakan dalam peringkat, karena tidak ada data. Penelitian ini mengambil jumlah sampel seimbang antara perusahaan sehat dan yang tidak sehat berdasarkan peringkat predikat yaitu bagus hingga sangat bagus dikelompokkan pada perusahaan sehat sebanyak 22 perusahaan dan yang berpredikat cukup bagus hingga tidak bagus dikelompokkan pada perusahaan tidak sehat juga sebanyak 22 perusahaan.

Variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kesehatan keuangan perusahaan asuransi. Nilai variabel 2 jika perusahaan tersebut sehat dan 1 jika perusahaan tersebut tidak sehat. Sedangkan variabel bebasnya adalah 10 rasio kriteria versi Biro Riset Info Bank. Model yang digunakan metode multiple discriminant analysis (MDA) yaitu model dari fungsi diskriminan atau disebut dengan linear discriminant function berupa:

 

Z = d0 + d1 X1 + d2 X2 + d3 X3 + d4 X4 + d5 X5 + d6 X6 + d7 X7 + d8 X8 + d9 X9 + d10 X10 + e

 

Z adalah keadaan sehat atau tidak sehat perusahaan asuransi jiwa, X1 rasio perubahan premi bruto, X2 rasio perubahan modal sendiri, X3 rasio kekayaan yang diperkenankan/kewajiban, X4 rasio aktiva/kewajiban lancar, X5 rasio investasi/cadangan teknis, X6 rasio aktiva tetap terhadap modal sendiri, X7 rasio premi retensi sendiri terhadap modal sendiri, X8 pendapatan investasi netto terhadap rasio rata-rata kas dan investasi, X9 rasio beban biaya-biaya terhadap pendapatan premi neto, X10 rasio laba/rugi sebelum pajak terhadap modal sendiri.

Langkah pertama membuat estimasi terhadap model di atas menggunakan multiple discriminant analysis (MDA). Pada tahap ini akan ditemukan intersep d0 hingga d10, lalu dilanjutkan dengan verifikasi (pengujian untuk memenuhi 4 asumsi klasik yaitu normalitas, homoskedastik, non korelasi seri dan non multikolinier, sehingga diperoleh BLUE (best linier unbiased estimator).

 

Hasil Penelitian

Berdasarkan tampilan group statisti pada nilai rata-rata ke 10 rasio keuangan antara perusahaan sehat dengan yang tidak sehat berbeda. Rasio perubahan modal sendiri (X2) misalnya berbeda untuk perusahaan tidak sehat dengan perusahaan sehat, dimana kelompok pertama mempunyai rasio perubahan modal sendiri sebesar -9,0300 dan kelompok kedua sebesar 211,7814.

Dilihat dari test statistik Wilk’s L, ada perbedaan secara signifikan untuk setiap rasio keuangan (dari X1 hingga X10) berkisar sekitar 0,9 dan karena nampak nilainya semakin besar maka kecil kemungkinan Ho ditolak. Penerimaan H0 menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan untuk masing-masing variable dalam setiap kelompok. Penerimaan H0 dengan test statistik Wilk’s menyebabkan perlu dilakukan uji statistik lainnya karena ternyata ke-10 variabel tersebut belumlah dapat digunakan untuk membentuk variabel diskriminan. Uji Wilk’s L dapat diaproksimasi dengan statistik Chi-square. Nilai Wilk’s L sebesar 0,558 sama dengan nilai Chi-Square 18,654 dan ternyata nilai ini signifikan pada 0,045. Maka dapat disimpulkan bahwa fungsi diskriminan tidak signifikan secara statistik. Konstanta dan koefisien fungsinya

 

Persamaan estimasi fungsi diskriminan unstandardized dapat dilihat dari output canonical discriminant function coefficient dengan persamaan sebagai berikut:

 

Z=-.631+.005X1+.00X2+.004X3+.001X4-.003X5-.016X6+.001X7+.053X9+.009X10

 

Untuk menguji seberapa besar dan berarti perbedaan antara kedua kelompok perusahaan dapat dilihat dari nilai Square Canonical Correlation (CR2),CR2 sebesar 0.670, artinya 44,9% variasi antara kelompok perusahaan sehat dan tidak sehat dapat dijelaskan oleh variabel diskriminan rasio X1 hingga X10.

Berdasarkan hasil penelitian didapat variabel terbesar adalah variabel X7. Dengan demikian rasio pendapatan investasi neto terhadap rata-rata kas dan investasi relatif lebih penting dibandingkan variabel rasio lainnya dalam membentuk fungsi diskriminan.

Nilai loading masing-masing variabel sangat kecil berarti skor diskriminan tidak dapat digunakan sebagai ukuran kesehatan keuangan perusahaan. Hal demikian dapat terjadi karena dalam mengestimasi model fungsi diskriman tidak dilakukan atau tidak terpenuhi terlebih dahulu keempat uji asumsi klasik yaitu normalitas, homoskedastik, non korelasi seri dan non multikolinier sehingga tidak diperoleh penduga tidak bias linier terbaik. Salah satu bukti bahwa asumsi ini tidak terpenuhi dapat diketahui dengan uji Multikolinearitas.

 

 

Kesimpulan

Semua kriteria rasio yang dipilih oleh Biro Riset InfoBank masih belum dapat dijadikan estimator atau penentu ukuran kesehatan perusahaan asuransi jiwa karena hanya 44,9 % saja ketepatannya, jadi masih banyak variabel lain yang sebenarnya menjadi ukuran kesehatan perusahaan asuransi jiwa.

Penelitian dihadapkan pada beberapa keterbatasan. Pertama, periode pengamatan hanyalah satu tahun sehingga tidak representative untuk mengukur kesehatan perusahaan asuransi jiwa. Keterbatasan kedua, variable pengukuran kesehatan perusahaan asuransi masih belum memasukkan factor – factor lain yang mungkin berpengaruh seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, tingkat suku bunga dan lain-lain.


 

Selengkapnya...