ShoutMix chat widget

Friday, February 26, 2010

BIOGRAFI

Nama saya Achmad Furqon, saya lahir di Jakarta tahun 1987 anak ke 7 dari 11 bersaudara terdiri dari 6 anak lelaki dan 5 anak perempuan. Saat ini saya berkuliah di Universitas Gunadarma depok jurusan Manajemen, selain kuliah saya juga bekerja sebagai pekerja lepas di bidang illustrasi gambar, untuk sampingannya saya mengajar kegiatan ekstrakulikuler sinematografi di sekolah SMA N 18  yang  tak lain adalah bekas sekolahan saya dulu. Waktu masih SMA saya merupakan anak yang kurang rajin dan rapih dalam berpenampilan ( hingga sekarang ) dikarenakan sekolah sambil kerja yang saya lakukan dari SMA membuat keseharian saya menjadi sibuk dan kadang tidak sempat tidur belum lagi dengan kegiatan beberapa ekstrakulikuler yang saya ikuti menambah kesibukan saya, saya mengikuti 4 ekskul yaitu taekwondo, wallclimbing (panjat dinding), basket dan ROHIS.

Pada masa SMP saya bersekolah di SMP N 95 yang merupakan salah satu sekolah favorit di lingkungan Jakarta utara, ada pengalaman menarik sebelum saya masuk SMP waktu kelas 6 sd saya anak yang sangat badung dan pemalas, sampai akhirnya kakak saya menantang kalau saya bisa masuk sekolah favorit maka akan mendapat imbalan, sebenarnya sih imbalannya tak seberapa tapi tantangannya itu yang membakar semangat saya untuk masuk ke sekolah favorit itu. Sebenernya  SMP N 95 memang sudah menjadi pilihan tetap keluarga saya dari kakak pertama sampai sebelum saya masuk SMP N 95.

Ketika SD tak ada yang menarik saya sekolah di SD N Warakas 01 Pagi di dekat rumah, sebelumnya saya bersekolah di SD Barunawati yang lumayan jauh dari rumah, gara – gara saya pernah tertabak ojek sepeda yang menyebabkan luka pada dengkul saya akhirnya pindah ke sekolah SD N 01 pagi Warakas. Tak ada yang saya ceritakan karena tidak ada kejadian yang menarik kecuali bertengkar dengan teman sekelas, hanya gara – gara saling mengejek yang begujung dengan perkelahian.

Pertama kali saya bolos adalah ketika saya Tk, dari tk saya sudah terbiasa pulang pergi sekolah sendiri, suatu ketika ketika saya dan teman – teman sedang bermain ada yang menantang untuk bertaruh siapa yang berani pulang saat itu, dengan sepontan saya menjawab berani padahal tadi Cuma sekedar kata – kata bualan tapi entah kenapa waktu itu saya akhirnya benar – benar pulang sialnya uang taruhannya tak terbawa, sesampai di rumah ibu terheran heran loh jam segini kok sudah pulang dengan perasaan dag dig dug saya jawab pulang cepet gurunya gak masuk, masa kecil yang tidak patut di contoh setelah itu saya langsung menyetel video megaloman di ruang tv. Yah inilah sepenggal kehidupan saya yang dapat saya ceritakan mungkin cerita yang membosankan tapi bagi saya ini adalah pengalaman hidup yang berharga, yang membentuk saya menjadi sekarang ini.      

Selengkapnya...

Thursday, February 25, 2010

Penalaran


Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk yang berpikir, merasa, bersikap, dan bertindak. Sikap dan yang bersumber pada pengetahuan yang didapatkan lewat kegiatan merasa atau berpikir. Penalaran menghasilkan pengetahuan yang diartikan dengan kegiatan berpikir dan bukan dengan perasaan, meskipun seperti dikatakan Pascal, hati pun mempunyai logika tersendiri. Meskipun demikian patut kita sadari bahwa tidak semua kegiatan berpikir menyandarkan diri pada penalaran. Jadi penalaran merupakan kegiatan berpikir yang mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran mengembangkan paham yang kemudian disebut sebagai rasionalisme. Sedangkan mereka yang yang menyatakan bahwa fakta yang tertangkap lewat pengalaman manusia merupakan sunber kebenaran mengembangkan paham empirisme.

sumber : http://azamstaida.blogspot.com/2009/03/makalah-filsafat.html


       Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.

sumber : http://www.penalaran-unm.org/index.php/artikel-nalar/wacana/173.html?task=view

 Dari kedua pengertian penalaran di atas dapat kita simpulkan bahwa penalaran merupakan proses berfikir seseorang dalam menanggapi apa yang dilihat dan dicerna menjadi sebuah pengertian berupa konsep atau pernyataan tertentu tergantung dari perspektif seseorang.

Sedangkan dalam bahasa indonesia terdapat kalimat penalaran yang terbagi dua yaitu

1.      Induktif

  •       Metode berfikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berfikir dengan bertolak dari hal – hal khusus ke umum
  •       Hokum yang disimpulkan di fenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum di teliti.
  •       Generalisasi adalah bentuk dari metode berfikir induktif

2.      Deduktif

  •       Metode berfikir deduktif adalah metode brfikir yang menerapkan hal – hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian – bagian yang khusus




Selengkapnya...

Sunday, February 14, 2010

MENGAPA KITA HARUS BELAJAR BAHASA INDONESIA

               Mengapa kita harus belajar bahasa indonesia? Jika kita ingin menjawab pertanyaan ini, maka akan terbesit pertanyaan yang lain, seperti apakah kita telah berbahasa Indonesia dengan baik dan benar ? Setelah belasan tahun bahasa nasional ini kita pelajari dari TK sampai perguruan tinggi dan setelah puluhan tahun bahasa persatuan ini kita gunakan sehari-hari dalam berbagai kesempatan resmi dan tak resmi ?
               Dewasa ini banyak yang menggunakan bahasa campuran untuk bahasa sehari - hari, baik campuran dengan bahasa daerah maupun bahsa asing. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor baik dari dalam maupun faktor dari luar ngeri. faktor dari dalam tentu saja karena beragamnya suku dan bahasa di indonesia ini menyebabkan pencampuran bahasa sehari -  hari, karena telah terbiasa menggunakan bahasa daerah jadi menggunakan bahasa campuran jadi kebiasaan. sedangkan faktor luar, bisa dari media - media baik media cetak elektronik dan lain - lain. Pada dasarnya, fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Bahasa menjadi penjamin berlangsungnya interaksi antar manusia.  Bahasa juga merupakan identitas suatu bangsa, dengan bahasa kita bisa mengetahui berasal dari manakah mereka berasal. dari pada itu kita harus belajar bahasa yang baik dan benar agar dapat berkomunikasi dengan baik.
                    sebagai bahasa resmi ( negara ), usia bahasa indonesia telah mencapai bilangan ke-64 tahun. Bahkan, dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa indonesia sudah berusia 81 tahun. jika dianalogikan dengan kehidupan manusia, dalam rentang usia tersebut idelanya sudah mampu mencapai tingkat " kematangan " dan " kesempurnaan " hidup, sebab sudah banyak merasakan lika - liku dan pahit getirnya perjalanan sejarah. seharusnya dengan usia yang sudah matang ini bahasa telah diterapkan dengan baik oleh para masyarakat tetapi pada kenyataanya bahasa kita mengalami pergeseran tata bahas seperti bermunculannya bahas bahas aneh seperti bahasa gaul dan bahasa singkatan yang makin membuat buruk tata bahasa baik secara lisan maupun secara tulisan.    
                   Oleh karena itu sehausnya bangsa indonesia  sudah berbenah diri mengenai bahasa yang semakin lama semakin ngawur ini di lihat dari umur yang sudah di atas 50 tahun, salah satu agar bahasa ini diminati dengan cara pemerintah membiarkan guru - guru berkreasi dalam mengajar anak - anak di sekolah mengenai pelajaran bahasa indonesia, dengan cara dan bahasa yang lebih aktiv bukan pasiv agar memacu anak anak agar lebih semangat dalam mempelajari bahasa indonesia yang baik dan benar. dan juga sertakan budaya nasionalisme di beberapa media cetak atau pun elektronik dengan cara menghilangkan penggunaan istilah bahasa - bahasa asing yang hanya menyebabkan pencampuran itu kembali lagi, karena media media seperti inilah menjadi panutan masyarakat dalam menggunakan bahasa sehari hari.
                      
                 
Selengkapnya...