ShoutMix chat widget

Tuesday, January 5, 2010

Tugas Metode Riset 2

PREDIKSI TINGKAT KESEHATAN PERUSAHAAN ASURANSI JIWA TERMASUK KEMUNGKINAN KEBANGKRUTANNYA DENGAN

RASIO-RASIO KEUANGAN

Peni Sawitri

Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma

 

 

Masalah

Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah laporan keuangan dapat digunakan untuk memprediksi tingkat kesehatan perusahaan asuransi jiwa termasuk kemungkinan kebangkrutannya dengan rasio-rasio keuangan.

 

Tujuan Penelitian

Untuk menemukan bukti empiris untuk menguji variable Penelitian ini bertujuan untuk meneliti apakah laporan keuangan dapat digunakan untuk memprediksi tingkat kesehatan perusahaan asuransi jiwa termasuk kemungkinan kebangkrutannya dengan rasio-rasio keuangan.

 

Metodologi Penelitian

Penelitian ini mengambil data sekunder berupa hasil peringkat Asuransi Jiwa yang telah dilakukan Biro Riset Info Bank per Desember 2000 terhadap 60 perusahaan dimana 7 diantaranya tidak diikutsertakan dalam peringkat, karena tidak ada data. Penelitian ini mengambil jumlah sampel seimbang antara perusahaan sehat dan yang tidak sehat berdasarkan peringkat predikat yaitu bagus hingga sangat bagus dikelompokkan pada perusahaan sehat sebanyak 22 perusahaan dan yang berpredikat cukup bagus hingga tidak bagus dikelompokkan pada perusahaan tidak sehat juga sebanyak 22 perusahaan.

Variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kesehatan keuangan perusahaan asuransi. Nilai variabel 2 jika perusahaan tersebut sehat dan 1 jika perusahaan tersebut tidak sehat. Sedangkan variabel bebasnya adalah 10 rasio kriteria versi Biro Riset Info Bank. Model yang digunakan metode multiple discriminant analysis (MDA) yaitu model dari fungsi diskriminan atau disebut dengan linear discriminant function berupa:

 

Z = d0 + d1 X1 + d2 X2 + d3 X3 + d4 X4 + d5 X5 + d6 X6 + d7 X7 + d8 X8 + d9 X9 + d10 X10 + e

 

Z adalah keadaan sehat atau tidak sehat perusahaan asuransi jiwa, X1 rasio perubahan premi bruto, X2 rasio perubahan modal sendiri, X3 rasio kekayaan yang diperkenankan/kewajiban, X4 rasio aktiva/kewajiban lancar, X5 rasio investasi/cadangan teknis, X6 rasio aktiva tetap terhadap modal sendiri, X7 rasio premi retensi sendiri terhadap modal sendiri, X8 pendapatan investasi netto terhadap rasio rata-rata kas dan investasi, X9 rasio beban biaya-biaya terhadap pendapatan premi neto, X10 rasio laba/rugi sebelum pajak terhadap modal sendiri.

Langkah pertama membuat estimasi terhadap model di atas menggunakan multiple discriminant analysis (MDA). Pada tahap ini akan ditemukan intersep d0 hingga d10, lalu dilanjutkan dengan verifikasi (pengujian untuk memenuhi 4 asumsi klasik yaitu normalitas, homoskedastik, non korelasi seri dan non multikolinier, sehingga diperoleh BLUE (best linier unbiased estimator).

 

Hasil Penelitian

Berdasarkan tampilan group statisti pada nilai rata-rata ke 10 rasio keuangan antara perusahaan sehat dengan yang tidak sehat berbeda. Rasio perubahan modal sendiri (X2) misalnya berbeda untuk perusahaan tidak sehat dengan perusahaan sehat, dimana kelompok pertama mempunyai rasio perubahan modal sendiri sebesar -9,0300 dan kelompok kedua sebesar 211,7814.

Dilihat dari test statistik Wilk’s L, ada perbedaan secara signifikan untuk setiap rasio keuangan (dari X1 hingga X10) berkisar sekitar 0,9 dan karena nampak nilainya semakin besar maka kecil kemungkinan Ho ditolak. Penerimaan H0 menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan untuk masing-masing variable dalam setiap kelompok. Penerimaan H0 dengan test statistik Wilk’s menyebabkan perlu dilakukan uji statistik lainnya karena ternyata ke-10 variabel tersebut belumlah dapat digunakan untuk membentuk variabel diskriminan. Uji Wilk’s L dapat diaproksimasi dengan statistik Chi-square. Nilai Wilk’s L sebesar 0,558 sama dengan nilai Chi-Square 18,654 dan ternyata nilai ini signifikan pada 0,045. Maka dapat disimpulkan bahwa fungsi diskriminan tidak signifikan secara statistik. Konstanta dan koefisien fungsinya

 

Persamaan estimasi fungsi diskriminan unstandardized dapat dilihat dari output canonical discriminant function coefficient dengan persamaan sebagai berikut:

 

Z=-.631+.005X1+.00X2+.004X3+.001X4-.003X5-.016X6+.001X7+.053X9+.009X10

 

Untuk menguji seberapa besar dan berarti perbedaan antara kedua kelompok perusahaan dapat dilihat dari nilai Square Canonical Correlation (CR2),CR2 sebesar 0.670, artinya 44,9% variasi antara kelompok perusahaan sehat dan tidak sehat dapat dijelaskan oleh variabel diskriminan rasio X1 hingga X10.

Berdasarkan hasil penelitian didapat variabel terbesar adalah variabel X7. Dengan demikian rasio pendapatan investasi neto terhadap rata-rata kas dan investasi relatif lebih penting dibandingkan variabel rasio lainnya dalam membentuk fungsi diskriminan.

Nilai loading masing-masing variabel sangat kecil berarti skor diskriminan tidak dapat digunakan sebagai ukuran kesehatan keuangan perusahaan. Hal demikian dapat terjadi karena dalam mengestimasi model fungsi diskriman tidak dilakukan atau tidak terpenuhi terlebih dahulu keempat uji asumsi klasik yaitu normalitas, homoskedastik, non korelasi seri dan non multikolinier sehingga tidak diperoleh penduga tidak bias linier terbaik. Salah satu bukti bahwa asumsi ini tidak terpenuhi dapat diketahui dengan uji Multikolinearitas.

 

 

Kesimpulan

Semua kriteria rasio yang dipilih oleh Biro Riset InfoBank masih belum dapat dijadikan estimator atau penentu ukuran kesehatan perusahaan asuransi jiwa karena hanya 44,9 % saja ketepatannya, jadi masih banyak variabel lain yang sebenarnya menjadi ukuran kesehatan perusahaan asuransi jiwa.

Penelitian dihadapkan pada beberapa keterbatasan. Pertama, periode pengamatan hanyalah satu tahun sehingga tidak representative untuk mengukur kesehatan perusahaan asuransi jiwa. Keterbatasan kedua, variable pengukuran kesehatan perusahaan asuransi masih belum memasukkan factor – factor lain yang mungkin berpengaruh seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, tingkat suku bunga dan lain-lain.


 

No comments:

Post a Comment